MANADO – Suasana Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado terlihat berbeda dalam beberapa hari terakhir. Penuh kesiapan dan antusiasme, seluruh lini operasional bandara bersiaga menyambut kedatangan jemaah haji asal Sulawesi Utara. PT Angkasa Pura Indonesia selaku pengelola bandara mengambil langkah-langkah serius untuk memastikan pelayanan terbaik demi kenyamanan jemaah dan keluarga mereka.

Langkah itu diwujudkan dalam bentuk peningkatan layanan menyeluruh, baik dari sisi fasilitas maupun koordinasi lintas instansi. General Manager Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado, Maya Damayanti, menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan seluruh perangkat pendukung guna menjamin kelancaran penyambutan.

Persiapan Teknis dan Operasional

Kesiapan menyambut jemaah haji dimulai dari pengecekan menyeluruh terhadap fasilitas utama. Maya menjelaskan bahwa peralatan vital seperti garbarata, konveyor bagasi, dan sistem keamanan bandara telah diuji fungsinya sebelum jadwal kedatangan jemaah ditetapkan. Fasilitas-fasilitas tersebut akan menjadi titik kunci dalam mempercepat proses debarkasi jemaah dari pesawat ke terminal kedatangan.

Selain itu, bandara juga menyediakan jalur khusus serta ruang tunggu yang nyaman. Konfigurasi ruang kedatangan diperluas untuk mengakomodasi jumlah penjemput dan mengantisipasi lonjakan kunjungan keluarga jemaah. Setidaknya 650 slot parkir disiapkan secara terorganisir, termasuk pengaturan parkir kendaraan besar yang digunakan oleh rombongan penjemput dari berbagai kabupaten/kota.

Koordinasi Lintas Stakeholder

Tidak hanya mengandalkan personel internal, PT Angkasa Pura Indonesia menggandeng berbagai pihak guna memastikan setiap elemen pendukung bekerja optimal. Sebanyak 81 personel gabungan diterjunkan dalam misi penyambutan ini. Mereka terdiri dari Aviation Security Bandara Sam Ratulangi, unsur TNI dan Polri, serta staf pendukung dari instansi lain seperti Kementerian Agama, Imigrasi, Bea Cukai, dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP).

“Koordinasi telah dilakukan sejak jauh hari. Semua pihak paham dengan perannya. Ini bukan hanya soal teknis penerbangan, tetapi juga pelayanan sosial bagi para tamu Allah yang baru saja menuntaskan ibadah haji,” jelas Maya Damayanti.

Ia menambahkan, integrasi antar-instansi menjadi kunci agar potensi hambatan teknis maupun administratif bisa diantisipasi sedini mungkin. Mulai dari pengawalan logistik jemaah, penanganan barang bawaan, hingga pendampingan kesehatan, semua telah diperhitungkan secara matang.

Pendekatan Humanis dalam Layanan

Peningkatan pelayanan di Bandara Sam Ratulangi juga mencerminkan pendekatan yang lebih humanis. Tidak sekadar formalitas, petugas yang terlibat mendapatkan pembekalan khusus dalam hal komunikasi publik dan pendampingan emosional. Ini penting mengingat mayoritas jemaah haji berasal dari kelompok lanjut usia.

Petugas layanan darat diberikan pelatihan tambahan agar mampu mengenali sinyal kelelahan fisik atau kendala komunikasi dari jemaah. Tersedia pula posko informasi dan bantuan kesehatan yang aktif selama 24 jam.

“Kami tidak ingin jemaah sekadar merasa ditangani. Kami ingin mereka merasa disambut dengan penuh kasih sayang dan penghormatan,” ujar Koordinator Layanan Umum Bandara, Hendrik Palit.

Kedatangan Jemaah Sebagai Momen Emosional

Kedatangan jemaah haji selalu menjadi peristiwa penuh emosi dan kebahagiaan. Tangis haru, pelukan panjang, dan sujud syukur di tengah kerumunan keluarga menjadi pemandangan yang lazim di terminal kedatangan. Untuk itu, pengelola bandara juga melakukan pengaturan zona dengan pendekatan psikologis.

Zona kedatangan utama diatur sedemikian rupa agar jemaah dan keluarga dapat bertemu dalam situasi yang aman dan nyaman. Area khusus disiapkan untuk keluarga yang membawa balita, lansia, atau difabel. Bahkan, toilet tambahan dan mushola portabel juga disediakan untuk mendukung kelancaran ibadah bagi para penjemput yang menunggu berjam-jam.

Dukungan Pemerintah Daerah

Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara turut mengambil bagian dalam penyambutan jemaah. Gubernur Sulut, Olly Dondokambey melalui pernyataan resminya, menyampaikan apresiasi atas kerja sama antarinstansi dan seluruh unsur masyarakat yang mendukung proses kedatangan.

“Kepulangan jemaah haji bukan hanya tentang proses logistik. Ini momentum spiritual bagi keluarga dan masyarakat. Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh stakeholder, termasuk Angkasa Pura Indonesia, atas komitmen dalam pelayanan terbaik,” bunyi pernyataan tertulis gubernur.

Pemerintah juga memastikan ada pendampingan pascakembalinya jemaah, termasuk monitoring kesehatan dan dukungan logistik di tingkat daerah.

Distribusi Jemaah ke Kabupaten/Kota

Setelah tiba di Manado, jemaah akan langsung diarahkan untuk melanjutkan perjalanan ke daerah masing-masing. Pemprov telah menyiapkan armada khusus untuk proses distribusi ini. Beberapa kabupaten seperti Bolaang Mongondow, Kepulauan Sitaro, dan Talaud memerlukan moda transportasi lanjutan baik darat maupun laut.

Bandara Sam Ratulangi menyediakan ruang transit bagi jemaah yang masih harus menunggu jadwal keberangkatan ke daerahnya. Di dalam ruang transit tersebut, tersedia konsumsi, tempat istirahat, dan layanan informasi.

“Kami menempatkan perhatian besar terhadap fase ini karena mobilitas jemaah masih tinggi. Kami ingin mereka tidak kelelahan selama proses distribusi,” kata Kepala Seksi Angkutan Darat Dishub Sulut, Yosep Rantung.

Antisipasi Kesehatan dan Keamanan

Pihak Kantor Kesehatan Pelabuhan melakukan pemeriksaan kesehatan standar terhadap seluruh jemaah yang baru tiba. Fokus utama pada identifikasi gejala gangguan pernapasan dan kondisi kelelahan berat. Pemeriksaan dilakukan secara cepat namun menyeluruh menggunakan sistem screening digital dan pemeriksaan suhu tubuh.

Jika ditemukan indikasi sakit, jemaah langsung diarahkan ke fasilitas medis yang telah disiapkan di bandara. Tindakan ini sesuai dengan protokol kesehatan nasional yang masih berlaku untuk mobilitas dari luar negeri.

Aspek keamanan juga diperkuat. Petugas kepolisian melakukan patroli rutin, baik di dalam maupun sekitar area bandara. Antisipasi terhadap potensi tindak kejahatan seperti pencopetan, pemalsuan dokumen, hingga kericuhan massal menjadi perhatian utama.

Respon Positif dari Keluarga dan Masyarakat

Kehadiran sistem pelayanan baru di bandara menuai apresiasi dari masyarakat. Sejumlah keluarga jemaah menyampaikan rasa terima kasih atas pelayanan yang mereka rasakan.

“Begitu turun dari pesawat, orang tua saya langsung diarahkan ke tempat duduk yang nyaman. Proses pengambilan bagasi juga cepat. Ini pertama kali saya lihat bandara kita tertata seperti ini,” ujar Samuel Waroka, warga asal Tomohon yang menjemput ibunya.

Sementara itu, warga dari luar daerah yang harus menunggu jadwal penjemputan juga merasa terbantu dengan fasilitas tambahan.

“Alhamdulillah kami bisa istirahat di ruang transit, ada air minum dan makanan. Petugasnya juga ramah. Ini sangat membantu,” ungkap Nurhayati Badu, penjemput jemaah dari Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Evaluasi dan Rencana Ke Depan

General Manager Maya Damayanti menyampaikan bahwa evaluasi akan dilakukan setelah seluruh kloter jemaah haji tiba. Hal ini untuk mengidentifikasi celah yang mungkin masih perlu ditingkatkan dalam pelayanan bandara ke depan.

“Pelayanan jemaah haji adalah tantangan tahunan. Tapi setiap tahun harus lebih baik. Kami ingin Bandara Sam Ratulangi menjadi contoh pelayanan publik yang humanis, cepat, dan profesional,” tandasnya.

Ia juga mengisyaratkan adanya kemungkinan perluasan terminal dan perbaikan fasilitas jangka panjang guna menunjang kapasitas bandara yang terus meningkat, termasuk penambahan ruang tunggu domestik dan internasional.

Komitmen Berkelanjutan

Komitmen peningkatan pelayanan ini tidak berhenti pada momen haji saja. Bandara Sam Ratulangi Manado secara bertahap melakukan pembaruan sistem dan infrastruktur. Program-program digitalisasi pelayanan mulai diuji coba, seperti self check-in, e-gate, dan sistem notifikasi bagasi real time.

Tujuannya adalah menjadikan bandara ini sebagai salah satu yang paling ramah pengguna di kawasan timur Indonesia.

Maya Damayanti menggarisbawahi bahwa pelayanan bandara harus mengikuti dinamika masyarakat dan perkembangan teknologi. Ia menekankan pentingnya kecepatan adaptasi, terutama di sektor transportasi udara yang menjadi tulang punggung mobilitas antardaerah.

Kedatangan jemaah haji menjadi salah satu momen paling penting dalam kalender pelayanan publik di Sulawesi Utara. Dengan peningkatan layanan yang dilakukan secara menyeluruh, Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado menunjukkan bahwa komitmen terhadap pelayanan bukan sekadar slogan, melainkan kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Dalam proses yang penuh keharuan dan kebanggaan ini, pelayanan prima menjadi bentuk penghormatan tertinggi kepada para jemaah haji yang telah menunaikan salah satu rukun Islam. Bandara Sam Ratulangi telah menjadikan momentum ini sebagai panggung untuk menunjukkan wajah terbaik Sulawesi Utara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *