Kotamobagu – Suasana haru menyelimuti satu sudut Kelurahan Molinow, Kecamatan Kotamobagu Barat, Sulawesi Utara, saat pasangan suami istri Hamid Suna Mokoginta dan Rika Mokodompit menyaksikan rumah mereka yang baru saja selesai direnovasi. Di tengah peringatan Hari Bhayangkara ke-79, kepolisian dari Polres Kotamobagu menyerahkan hasil program bedah rumah kepada pasangan ini. Air mata bahagia mengalir tanpa terbendung saat mereka membuka pintu rumah yang kini berdiri kokoh, menggantikan bangunan lama yang nyaris ambruk.
Sebelumnya, rumah Hamid dan Rika berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Berdinding papan lapuk yang nyaris terlepas, tanpa lantai keramik, atap bocor saat hujan, dan tanpa fasilitas sanitasi yang layak. Bertahun-tahun pasangan ini hidup dalam keterbatasan. Sebagai pekerja serabutan yang pendapatannya tidak menentu, Hamid mengaku tak pernah berani bermimpi memiliki rumah layak huni.
Namun situasi tersebut berubah drastis berkat program sosial yang digagas oleh Polres Kotamobagu. Dalam momentum Hari Bhayangkara, institusi kepolisian di daerah ini menunjukkan wajah humanisnya melalui kegiatan bedah rumah yang tidak hanya menyasar bangunan fisik, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.

Rumah Hampir Roboh, Hidup Penuh Keterbatasan
Di tengah geliat pembangunan Kota Kotamobagu yang kian pesat, masih ada warga yang harus bertahan hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi. Hamid Suna Mokoginta (56) dan Rika Mokodompit (50) termasuk di antaranya. Rumah mereka sebelumnya berdiri di atas tanah warisan keluarga, namun bangunannya tidak pernah direnovasi sejak puluhan tahun silam.
Hamid sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan. Kadang membantu tetangga berkebun, kadang menjadi kuli angkut di pasar. Pendapatan yang diperoleh bahkan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Rika, istrinya, pernah beberapa kali bekerja mencuci baju tetangga, tetapi kondisi kesehatannya yang tidak stabil membuat ia lebih sering berada di rumah.
Mereka tinggal bersama dua anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah menengah. Kondisi rumah yang sempit, bocor, dan pengap menjadi tempat berlindung satu keluarga kecil ini. Setiap musim hujan, air merembes dari atap dan membasahi tempat tidur. Beberapa bagian dinding sudah tidak lagi mampu menahan angin. Tidak ada kamar mandi yang layak. Hanya ada satu lampu redup yang menyala saat malam tiba.

Kepedulian yang Tumbuh dari Hati Anggota Kepolisian
Saat kondisi ini diketahui oleh jajaran Polres Kotamobagu, terutama dalam agenda survei sosial menyambut Hari Bhayangkara, keputusan untuk melakukan intervensi segera diambil. Kapolres Kotamobagu, AKBP Irwanto, menyatakan bahwa program bedah rumah ini merupakan bagian dari komitmen institusi untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat.
“Polri tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa kehadiran polisi bisa membawa perubahan nyata dalam kehidupan mereka,” ujar Irwanto.
Yang menarik, pendanaan program ini tidak bersumber dari APBN atau dana hibah pemerintah, melainkan dari sedekah para personel Polres Kotamobagu sendiri. Melalui sistem donasi internal yang diatur secara transparan, para anggota kepolisian menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk mewujudkan program sosial ini. Hal tersebut memperkuat pesan bahwa kepedulian tidak harus menunggu perintah institusi atau alokasi anggaran besar.

Proses Pembangunan dan Kolaborasi Masyarakat
Bedah rumah milik Hamid dan Rika dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Prosesnya melibatkan anggota kepolisian, masyarakat sekitar, dan beberapa relawan tukang bangunan. Bangunan lama yang sudah rapuh dibongkar sepenuhnya. Sebagai gantinya, rumah permanen satu lantai dengan dua kamar tidur, satu ruang tamu, dapur, dan kamar mandi dibangun dari awal.
Rangka atap menggunakan baja ringan, dindingnya kini terbuat dari batako yang diplester dan dicat cerah. Lantai keramik dipasang untuk memberikan kenyamanan lebih. Rumah ini juga dilengkapi dengan sambungan listrik yang lebih aman serta saluran air bersih yang mengalir dari sumur bor bantuan polisi.
Selama proses pengerjaan, warga sekitar ikut serta membantu dengan sukarela. Mereka melihat bahwa pembangunan rumah ini bukan hanya untuk Hamid dan Rika, tetapi juga simbol perubahan bagi lingkungan mereka.
“Kami sangat terharu karena selama ini belum pernah ada perhatian seperti ini di lingkungan kami. Polisi bukan hanya menjaga keamanan, tapi juga memberi harapan,” kata Asriani Monoarfa, tetangga dekat keluarga Hamid.

Penyerahan Simbolis dan Tangisan Kebahagiaan
Momen puncak kegiatan ini terjadi saat penyerahan rumah secara simbolis oleh Kapolres Kotamobagu. Di hadapan puluhan warga, personel polisi, tokoh masyarakat, dan perwakilan pemerintah kelurahan, Hamid dan Rika menerima kunci rumah baru mereka. Saat pintu dibuka, keduanya langsung bersimpuh, memeluk tiang rumah, dan menangis terisak.
“Saya tidak tahu harus berkata apa. Ini lebih dari mimpi bagi kami. Terima kasih kepada semua yang sudah peduli,” ucap Hamid dengan suara bergetar.
Kapolres Kotamobagu yang menyaksikan momen tersebut ikut terharu. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapan agar rumah ini bisa menjadi awal kehidupan baru yang lebih baik bagi keluarga tersebut.
“Rumah ini bukan hanya sekedar bangunan, tetapi simbol dari harapan, semangat kebersamaan, dan kepedulian. Semoga ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya,” tutur Irwanto.

Lebih dari Sekedar Perayaan
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Hari Bhayangkara bisa dirayakan dengan cara yang bermakna dan berdampak langsung kepada masyarakat. Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap institusi penegak hukum, langkah Polres Kotamobagu ini membuktikan bahwa reformasi kultural bisa dilakukan dari bawah, dari tindakan-tindakan sederhana yang berbasis empati.
Ketua RT setempat, Salim Moningka, menyatakan bahwa ini adalah kali pertama dalam sejarah lingkungan mereka ada program semacam ini.
“Biasanya kami hanya melihat berita tentang perayaan Hari Bhayangkara dari televisi atau internet. Tapi tahun ini, kami merasakannya langsung. Ini luar biasa,” ucap Salim.

Inspirasi Bagi Institusi Lain
Langkah yang diambil Polres Kotamobagu bisa menjadi inspirasi bagi institusi lain dalam menjalankan fungsi sosialnya. Ketika pendekatan keamanan digabungkan dengan pendekatan kemanusiaan, maka kepercayaan publik pun akan tumbuh secara organik.
Pengamat sosial dari Universitas Negeri Manado, Dr. Fenny Tumundo, menyebut bahwa program seperti ini merupakan contoh konkret dari community policing.
“Kepolisian yang hadir dalam kehidupan warga bukan hanya dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga penguatan sosial. Ini akan meningkatkan relasi positif antara masyarakat dan institusi kepolisian,” ujar Fenny.

Harapan Masa Depan untuk Keluarga Mokoginta
Kini, Hamid dan Rika memiliki rumah yang aman dan layak. Anak-anak mereka bisa belajar tanpa harus khawatir dengan atap bocor. Kehidupan mereka masih sederhana, tetapi lebih bermartabat. Bagi mereka, rumah ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga hadiah terbesar yang pernah mereka terima.
“Mulai sekarang kami tidak lagi merasa sendirian. Ada orang-orang baik di luar sana, dan ternyata polisi bisa menjadi salah satunya,” kata Rika dengan senyum penuh syukur.
Program bedah rumah oleh Polres Kotamobagu ini tidak hanya membangun tembok dan atap, tetapi juga membangun kepercayaan, rasa aman, dan optimisme. Tangis haru Hamid dan Rika menjadi simbol bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang, selama masih ada manusia yang peduli.