MANADO – Pemerintah Kota Manado memulai perayaan Festival Bung Karno 2025 dengan meriah dan penuh semangat nasionalisme. Bertempat di Pasar Tematik Kelurahan Tongkaina, kegiatan yang digelar selama dua hari, 20 hingga 21 Juni, menjadi wadah ekspresi dan edukasi kebangsaan bagi pelajar dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kota Manado.

Pada hari pertama pelaksanaan, dua jenis lomba langsung menjadi pusat perhatian: lomba line dance antar instansi dan lomba pidato Bahasa Indonesia tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kedua lomba ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan momentum strategis untuk menumbuhkan semangat persatuan, kebanggaan terhadap identitas bangsa, serta pemahaman mendalam tentang nilai-nilai perjuangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno.

Panggung Kreativitas dan Kolaborasi ASN

Lomba line dance melibatkan berbagai satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan seluruh kecamatan di Kota Manado. Setiap tim peserta menampilkan gerakan yang dinamis, berpadu dengan musik pilihan masing-masing, yang menggabungkan unsur modern dan tradisional. Lapangan terbuka yang digunakan di Pasar Tematik Tongkaina menjadi tempat para ASN unjuk kebolehan dalam kekompakan, ritme, dan inovasi gerak.

Salah satu peserta, Novia Palias, mengenakan kaus oranye terang saat tampil. Dengan penuh semangat, ia mengungkapkan rasa senangnya bisa ikut serta dalam ajang tersebut.

“Kegiatan ini sangat positif. Bukan hanya menyalurkan hobi menari, tapi juga memperkuat solidaritas antarinstansi. Kami latihan beberapa minggu, dan hari ini bisa tampil maksimal,” ujar Novia usai tampil di depan dewan juri.

Sorak-sorai dan tepuk tangan dari penonton mengiringi setiap penampilan peserta. Masyarakat sekitar Kelurahan Tongkaina turut hadir menyaksikan, memberikan semangat tambahan bagi para peserta. Tak sedikit yang mengabadikan momen dengan ponsel mereka, terutama saat beberapa instansi menyuguhkan koreografi yang mencampurkan tarian kontemporer dengan gerakan tradisional.

Pelajar Tampil Penuh Bangga di Pidato Bahasa Indonesia

Tidak kalah memukau, lomba pidato Bahasa Indonesia turut menyita perhatian. Panggung lomba diatur khusus di bawah tenda besar yang dihiasi dengan atribut merah putih dan gambar Bung Karno. Suasana terasa begitu khidmat ketika para pelajar dari berbagai sekolah negeri dan swasta naik satu per satu menyampaikan pidato mereka dengan penuh penghayatan.

Peserta dari tingkat SD dan SMP menampilkan orasi dengan tema-tema yang mengangkat nilai-nilai perjuangan, cinta tanah air, pentingnya persatuan, dan peran generasi muda dalam melanjutkan cita-cita para pendiri bangsa. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar menjadi aspek penilaian utama, di samping penguasaan panggung, artikulasi, dan pesan moral yang disampaikan.

Marindosiboy Pelealu, seorang guru dari SD Inpres Malalayang, mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bagian dari pembinaan karakter sejak dini.

“Ini sangat penting. Siswa kami belajar tidak hanya berbicara di depan umum, tetapi juga bagaimana menyampaikan ide secara sistematis dan meyakinkan. Lebih dari itu, mereka diajak untuk memahami siapa Bung Karno dan apa warisan pemikirannya yang masih relevan sampai hari ini,” ucap Marindosiboy kepada wartawan.

Menurutnya, antusiasme siswa sudah terlihat jauh hari sebelum pelaksanaan lomba. Mereka mempersiapkan materi pidato dengan bimbingan intensif dari para guru dan orang tua. Beberapa peserta bahkan menggunakan kostum bertema nasionalis seperti pakaian adat dan baju putih dengan peci hitam, menambah kesan sakral pada setiap penampilan.

Festival sebagai Ruang Perjumpaan dan Refleksi

Festival Bung Karno bukan hanya ajang kompetisi, melainkan juga ruang perjumpaan antara berbagai elemen masyarakat. Pemerintah Kota Manado sengaja memilih Pasar Tematik Tongkaina sebagai lokasi pelaksanaan agar kegiatan ini lebih dekat dengan warga. Selain itu, konsep pasar sebagai ruang publik terbuka memungkinkan interaksi yang lebih luas antara pelajar, ASN, dan masyarakat umum.

Berbagai stan juga disiapkan oleh panitia, mulai dari kuliner khas Sulawesi Utara, produk UMKM binaan kecamatan, hingga informasi pelayanan publik yang disediakan oleh beberapa dinas. Suasana semakin hidup dengan kehadiran panggung hiburan rakyat pada malam hari yang menampilkan pertunjukan musik dan puisi bertema kebangsaan.

Warga sekitar, termasuk anak-anak dan lansia, terlihat menikmati jalannya kegiatan. Mereka duduk beralaskan tikar, membeli makanan dari stan sekitar, sambil menyimak penampilan peserta lomba. Bagi warga, festival ini bukan hanya hiburan, tapi juga momentum mengingat kembali pentingnya nasionalisme di tengah derasnya arus globalisasi.

Dukungan Pemerintah Kota Manado

Wali Kota Manado melalui Dinas Pendidikan dan Dinas Kebudayaan menyatakan bahwa Festival Bung Karno merupakan agenda tahunan yang bertujuan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan nilai-nilai Pancasila. Tahun ini, festival dirancang lebih dekat dengan pelajar dan komunitas masyarakat untuk membangun keterlibatan aktif.

Dalam pembukaan kegiatan, perwakilan Pemerintah Kota menyampaikan bahwa keterlibatan pelajar dalam lomba pidato Bahasa Indonesia menjadi bukti nyata bahwa pendidikan karakter terus dihidupkan dalam sistem pendidikan Kota Manado.

Pemerintah juga mengapresiasi kerja sama semua pihak, terutama para guru dan kepala sekolah yang telah membimbing anak-anak dalam persiapan lomba. Penyelenggaraan festival ini diharapkan menjadi momentum tahunan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Kolaborasi Pendidikan dan Budaya

Selain sebagai bagian dari agenda budaya, lomba pidato juga menjadi metode pendidikan yang kreatif. Penggunaan bahasa nasional sebagai medium komunikasi resmi diajarkan tidak hanya dalam teori, tapi juga dalam praktik langsung melalui lomba. Ini menjadi bagian dari pelaksanaan Kurikulum Merdeka yang mendorong siswa untuk aktif, percaya diri, dan mampu mengekspresikan pikirannya secara terbuka.

Beberapa sekolah bahkan menjadikan ajang ini sebagai bagian dari program ekstrakurikuler dan proyek profil pelajar Pancasila. Dengan melibatkan peserta dari berbagai latar belakang sosial dan tingkat kemampuan yang berbeda, festival ini turut mendorong prinsip inklusivitas dalam dunia pendidikan.

Harapan dan Kelanjutan

Rangkaian Festival Bung Karno masih akan berlanjut hingga hari kedua dengan agenda yang tidak kalah menarik. Direncanakan akan digelar seminar sejarah kebangsaan, lomba baca puisi perjuangan, dan pameran arsip sejarah lokal yang berkaitan dengan kontribusi masyarakat Manado dalam masa perjuangan kemerdekaan.

Panitia berharap, melalui kegiatan ini, generasi muda Kota Manado bisa menjadi pelaku utama dalam pelestarian nilai-nilai nasionalisme dan semangat gotong royong. Festival ini juga menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya soal sejarah masa lalu, melainkan amanat masa kini untuk terus menjaga kebhinekaan dan kedaulatan bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *