Manado – Taman Makam Pahlawan Nasional Maria Walanda Maramis di Kairagi, Kota Manado, Sulawesi Utara, kembali menjadi saksi bisu semangat perempuan Minahasa yang tak pernah padam. Dalam suasana yang khidmat dan penuh penghayatan, ratusan anggota dan pengurus organisasi PIKAT (Percintaan Ibu terhadap Anak Turunannya) melaksanakan upacara ziarah dan tabur bunga sebagai bagian dari peringatan 108 tahun berdirinya organisasi perempuan tertua di Sulawesi Utara itu.

Momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, ziarah ini menjadi ajang refleksi mendalam akan perjuangan seorang perempuan Minahasa yang tidak hanya menjadi tokoh lokal, tetapi juga pelopor nasional dalam membangun kesadaran pendidikan dan kesejahteraan perempuan—Maria Josephine Catherine Maramis atau yang lebih dikenal sebagai Maria Walanda Maramis.

Ziarah Penuh Makna di Makam Sang Pahlawan

Pagi itu, langit Manado cerah, seolah ikut menyambut langkah-langkah para perempuan dari berbagai kalangan yang tergabung dalam organisasi PIKAT. Mengenakan seragam putih biru khas organisasi, mereka berjalan perlahan ke pelataran makam pahlawan nasional yang dihormati itu.

Di depan pusara, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) PIKAT, Novia H.A. Lambey, memimpin penghormatan kepada sang pendiri. Upacara diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan pengheningan cipta dan tabur bunga secara bergilir.

Bagi Novia, momen ini bukan sekadar penghormatan simbolik. Ia menegaskan bahwa ziarah tahunan ini adalah pengingat akan api perjuangan yang telah dinyalakan Maria Walanda Maramis sejak tahun 1917, dan yang harus terus dijaga, terutama oleh perempuan masa kini.

“Kami datang bukan hanya untuk menabur bunga, tetapi juga menabur tekad baru agar perjuangan Ibu Maria Walanda tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Kami, perempuan Minahasa, wajib melanjutkan perjuangan ini dengan program yang nyata,” ujar Novia dengan penuh semangat.

108 Tahun PIKAT: Dari Perempuan untuk Perempuan

Organisasi PIKAT yang didirikan oleh Maria Walanda Maramis pada 8 Juli 1917 awalnya bertujuan sederhana namun revolusioner: mencerdaskan dan memajukan perempuan Minahasa melalui pendidikan dan pemberdayaan. Di masa kolonial Belanda, ketika akses pendidikan untuk perempuan sangat terbatas, kehadiran PIKAT menjadi oase harapan.

Dalam perjalanannya selama lebih dari satu abad, PIKAT telah menginspirasi banyak gerakan perempuan lain di Sulawesi Utara dan bahkan di Indonesia. Peringatan tahun ini menjadi momentum penting untuk menegaskan ulang komitmen organisasi terhadap nilai-nilai dasar yang ditanamkan sang pendiri.

Novia menegaskan bahwa PIKAT masa kini tidak boleh hanya menjadi organisasi nostalgia sejarah, tetapi harus tetap relevan dalam konteks kekinian. “Kami sedang menyusun program kolaboratif bersama jurnalis perempuan di Sulawesi Utara, sebagai bagian dari Forum Group Discussion yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat,” ujarnya.

Program tersebut diharapkan dapat merumuskan langkah konkret untuk mendukung agenda pembangunan Sulawesi Utara, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan di pelosok.

Semangat Emansipasi dalam Konteks Modern

Walanda Maramis dikenal sebagai perempuan yang menentang sistem patriarki yang mapan kala itu. Ia menulis, berbicara, dan membentuk organisasi untuk membela hak perempuan. Kini, semangat itu diwariskan kepada generasi baru perempuan Minahasa.

Namun tantangannya kini jauh berbeda. Bukan lagi akses pendidikan dasar yang menjadi isu utama, tetapi bagaimana perempuan dapat mengambil peran strategis dalam kepemimpinan, pengambilan kebijakan, dan ekonomi kreatif di tengah era digital.

PIKAT melalui kepemimpinan barunya telah menyusun program penguatan kapasitas perempuan dalam kewirausahaan, pelatihan literasi digital, serta pendampingan hukum dan psikologis bagi perempuan korban kekerasan. Semua itu dimaksudkan untuk menghadirkan wajah baru organisasi yang tidak hanya berakar pada sejarah, tetapi juga menjawab kebutuhan zaman.

Warisan yang Tidak Tergerus Zaman

Nama Maria Walanda Maramis telah diabadikan sebagai Pahlawan Nasional sejak tahun 1969. Ia menjadi simbol perjuangan perempuan Indonesia dalam memperjuangkan hak pendidikan dan pengakuan sosial. Namun yang membuatnya begitu istimewa di hati masyarakat Sulawesi Utara adalah kenyataan bahwa ia adalah bagian dari mereka.

Kisah hidupnya, mulai dari perjuangan mendidik anak-anaknya sendiri setelah ditinggal suami, hingga mendirikan organisasi yang menjadi cikal bakal emansipasi perempuan Minahasa, adalah bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, dari seorang ibu, dari niat tulus yang tak gentar terhadap kekuasaan kolonial.

“Bagi kami di PIKAT, Ibu Maria bukan sekadar pahlawan. Ia adalah nenek moyang spiritual kami. Warisan beliau adalah akar dari segala gerakan kami,” kata Sekretaris BPP PIKAT, Mariana Keles, saat diwawancarai usai ziarah.

Kolaborasi Strategis Perempuan Sulut

Untuk memperluas jangkauan dan dampak, PIKAT tengah mempersiapkan kemitraan dengan sejumlah organisasi perempuan dan media. Salah satu agenda terdekat adalah pelaksanaan Forum Group Discussion (FGD) dengan jurnalis perempuan. Dalam forum tersebut, PIKAT akan mendorong narasi-narasi yang memperkuat posisi perempuan sebagai agen perubahan sosial dan pembangunan daerah.

“Kami melihat peran media sangat strategis dalam menyuarakan isu-isu perempuan. Kolaborasi dengan jurnalis perempuan akan memperkuat jaringan dan memperluas ruang ekspresi perjuangan perempuan,” jelas Novia.

Ia juga menambahkan, PIKAT membuka diri untuk berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam merancang program pelatihan bagi ibu rumah tangga, penguatan peran perempuan dalam pengelolaan desa, dan advokasi kebijakan yang ramah gender.

Harapan untuk Generasi Muda

Dalam acara ziarah ini, tidak hanya anggota senior PIKAT yang hadir. Sejumlah mahasiswa, pelajar perempuan, serta komunitas perempuan muda ikut ambil bagian. Kehadiran mereka menjadi isyarat penting bahwa estafet perjuangan ini akan terus berjalan.

Ketua PIKAT Cabang Manado, Yohana Langi, menyatakan bahwa keterlibatan generasi muda adalah langkah strategis. “Kita harus memastikan bahwa semangat ini tidak berhenti di generasi kami. Harus ada regenerasi. Kita perlu kader-kader perempuan yang siap tampil bukan hanya di dapur, tetapi juga di ruang-ruang publik,” katanya.

Program mentorship untuk remaja perempuan saat ini tengah disiapkan oleh PIKAT Manado, yang akan bekerja sama dengan kampus dan sekolah. Program ini menargetkan pelajar dari wilayah pesisir dan pegunungan, terutama yang belum memiliki akses informasi dan pelatihan yang memadai.

Seratus Tahun Lebih, Tapi Masih Relevan

Banyak organisasi besar gagal bertahan melewati satu abad. PIKAT telah membuktikan ketangguhannya, bukan hanya karena sejarah, tetapi karena keberanian untuk beradaptasi.

Ziarah ke makam Maria Walanda Maramis bukan akhir dari sebuah perayaan, melainkan awal dari serangkaian langkah untuk merumuskan strategi baru, menjawab tantangan baru, dan menyuarakan semangat lama dalam bahasa yang dimengerti generasi hari ini.

“Kita tidak boleh puas dengan cerita masa lalu. Kita harus jadi bagian dari cerita masa depan,” pungkas Novia.

Maka dari itu, hari ini bukan hanya tentang bunga yang ditabur di atas batu nisan, melainkan tentang api semangat yang terus menyala dalam dada perempuan Minahasa, Sulawesi Utara, dan Indonesia. Dan selama nama Maria Walanda Maramis tetap dikenang, selama itu pula PIKAT akan terus berdiri—tegak, bergerak, dan memberi makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *