Minahasa Utara – Gunung Klabat kembali menjadi sorotan, bukan karena panorama keindahannya yang selalu memikat para pecinta alam, tetapi karena aksi penyelamatan dramatis yang dilakukan Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Manado terhadap seorang remaja putri yang mengalami kondisi medis serius saat melakukan pendakian.

Kejadian ini berlangsung pada Minggu malam, 7 Juli 2025, ketika Nur Soleha, seorang pelajar berusia 16 tahun asal Kota Bitung, melakukan pendakian bersama enam rekannya. Mereka memulai perjalanan dari kaki Gunung Klabat sekitar pukul delapan malam dengan tujuan mencapai puncak keesokan harinya. Namun rencana pendakian itu berubah menjadi pengalaman menegangkan ketika Nur mulai mengeluhkan sakit perut hebat saat berada di Pos 4.

Kondisinya memburuk dengan cepat hingga ia kehilangan kesadaran. Teman-teman pendakiannya yang panik segera menghubungi keluarga Nur melalui jaringan komunikasi seadanya. Pihak keluarga yang mendapat informasi tersebut langsung melaporkan kejadian ke Kantor Basarnas Manado pada Minggu malam sekitar pukul 23.30 WITA.

Begitu menerima laporan, Kepala Kantor Basarnas Manado, George M. Randang, langsung memerintahkan tim rescue untuk segera menuju lokasi kejadian. Operasi penyelamatan dilakukan dalam kondisi minim cahaya dan tantangan medan yang tidak mudah, mengingat Pos 4 Gunung Klabat terletak pada ketinggian menengah dengan kontur tanah yang licin dan berbatu.

Upaya Evakuasi dalam Kegelapan

Tim rescue Basarnas Manado berangkat dari pos pendakian utama menuju Pos 4 dengan membawa perlengkapan evakuasi darurat, termasuk tandu medan dan peralatan medis. Evakuasi berlangsung dalam kondisi cuaca yang cukup bersahabat, meski kabut tipis mulai menyelimuti area hutan sejak tengah malam.

Sesampainya di lokasi sekitar pukul 02.15 WITA, tim langsung memberikan pertolongan pertama kepada Nur yang masih dalam kondisi tidak sadar. Setelah dilakukan pemeriksaan awal oleh paramedis yang turut serta dalam tim, dipastikan bahwa Nur mengalami gangguan pencernaan akut yang memicu penurunan kesadaran akibat dehidrasi dan kelelahan berat.

Kondisi ini dinilai cukup serius dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendakian atau menunggu hingga pagi. Tim memutuskan untuk segera mengevakuasi Nur turun gunung menggunakan tandu darurat. Proses evakuasi memakan waktu hampir satu jam dan berhasil membawa korban ke kaki gunung sekitar pukul 03.00 WITA.

Setelah kondisi korban mulai stabil, Basarnas langsung mengantar Nur ke Polsek Aermadidi untuk selanjutnya dijemput oleh pihak keluarga. Dari pantauan tim media di lapangan, keluarga korban tiba tak lama setelah Nur dievakuasi dan langsung membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Kepala Basarnas Manado Imbau Pendaki Siapkan Fisik dan Mental

Kepala Basarnas Manado, George M. Randang, dalam keterangan resminya kepada media menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental bagi siapa pun yang ingin melakukan pendakian, terutama di kawasan pegunungan yang memiliki medan menantang seperti Gunung Klabat.

“Kami selalu mengingatkan para pendaki, terutama anak-anak muda yang bersemangat menjelajahi alam, agar memperhatikan kondisi kesehatan sebelum memulai pendakian. Kasus seperti ini bisa berujung fatal jika tidak cepat ditangani,” ujar George Randang.

Ia juga mengapresiasi reaksi cepat dari rekan-rekan pendaki korban serta keluarga yang langsung melaporkan insiden ini kepada Basarnas. Tanpa adanya informasi yang cepat dan akurat, proses evakuasi akan sangat berisiko dan berpotensi memperburuk kondisi korban.

Gunung Klabat: Antara Keindahan dan Tantangan

Gunung Klabat, sebagai gunung tertinggi di Sulawesi Utara dengan ketinggian 1.990 meter di atas permukaan laut, merupakan destinasi populer bagi para pendaki. Jalurnya yang relatif aman dan pemandangannya yang menawan menjadi daya tarik tersendiri. Namun, tidak sedikit pula yang mengabaikan risiko kesehatan dan kesiapan fisik dalam pendakian, terutama para pendaki pemula.

Menurut komunitas pecinta alam setempat, beberapa kejadian medis di Gunung Klabat kerap terjadi pada titik-titik seperti Pos 3 hingga Pos 4, di mana jalur mulai menanjak tajam dan cuaca lebih lembab. Pendaki yang tidak terbiasa dengan perubahan tekanan udara dan suhu di ketinggian kerap mengalami masalah, mulai dari kram otot hingga kehilangan kesadaran akibat kelelahan atau dehidrasi.

Pemilik warung pendaki di area basecamp, Ibu Meike, mengaku cukup sering melihat pendaki muda yang memaksakan diri naik tanpa membawa bekal dan peralatan memadai.

“Kadang mereka cuma bawa minum satu botol kecil, makanan cuma mie instan. Kalau begini terus, bahaya. Apalagi kalau malam. Kami sudah sering bilang ke mereka untuk siapkan fisik dan logistik,” ujarnya.

Koordinasi Cepat Menjadi Kunci Keselamatan

Kasus Nur Soleha menegaskan kembali pentingnya sistem pelaporan cepat antara pendaki, keluarga, dan instansi terkait. Keberhasilan evakuasi dini hari itu merupakan hasil dari sinergi yang solid antara laporan masyarakat dan kesiapsiagaan petugas Basarnas.

George Randang menambahkan bahwa Kantor Basarnas Manado memiliki sistem siaga 24 jam dan membuka jalur komunikasi untuk semua laporan darurat melalui hotline serta kanal digital resmi. Ia berharap para pendaki dapat menyimpan kontak penting ini sebelum melakukan kegiatan di alam bebas.

“Kami tidak bisa melarang orang mendaki. Tapi yang bisa kami lakukan adalah memberi edukasi tentang pentingnya keselamatan. Bila ada kejadian seperti ini, lebih baik lapor cepat daripada terlambat,” ungkapnya.

Rekomendasi dan Edukasi ke Depan

Setelah insiden ini, sejumlah komunitas pendaki di Sulawesi Utara mulai menginisiasi kampanye kesadaran “Siap Naik, Siap Pulang”, yang menekankan pentingnya persiapan fisik, logistik, serta informasi jalur sebelum mendaki. Mereka juga akan membagikan daftar periksa (checklist) kepada pendaki pemula, termasuk gejala awal gangguan kesehatan yang harus diwaspadai selama di gunung.

Komunitas “Klabat Hiker”, yang selama ini aktif memberikan edukasi keselamatan pendakian, menilai bahwa pendakian remaja dan pelajar harus dilakukan dengan pendampingan orang dewasa yang berpengalaman. Ketua komunitas, Ricky Wenas, menyatakan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan sekolah-sekolah di Bitung dan sekitarnya untuk memberikan pelatihan dasar survival dan pertolongan pertama di alam bebas.

“Kami tidak ingin pendakian menjadi tragedi. Anak-anak muda harus diajarkan bahwa naik gunung bukan sekadar gaya, tapi tanggung jawab,” kata Ricky.

Akhir yang Lega, Awal dari Perubahan

Nur Soleha kini dalam kondisi stabil dan tengah menjalani observasi di rumah sakit daerah Bitung. Orang tuanya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada tim Basarnas Manado yang telah menyelamatkan putri mereka. Mereka berharap pengalaman ini menjadi pelajaran bagi semua pihak agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di alam bebas.

Dengan keberhasilan evakuasi ini, Basarnas Manado kembali menegaskan komitmennya dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat, khususnya dalam misi kemanusiaan dan penyelamatan.

Insiden di Gunung Klabat menjadi pengingat bahwa keindahan alam selalu datang dengan tanggung jawab. Setiap langkah di jalur pendakian harus dilandasi dengan kesiapan, pengetahuan, dan sikap hormat terhadap alam dan diri sendiri. Karena di alam bebas, keselamatan adalah hal utama yang tak boleh ditawar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *