Suasana Selasa pagi di Halaman Kantor Gubernur Sulawesi Utara mendadak berubah menjadi medan simulasi pertempuran. Dentuman suara senjata, teriakan komando, dan derap langkah cepat personel bersenjata lengkap membuat ribuan mata terpaku. Polda Sulawesi Utara menggelar atraksi yang bukan hanya spektakuler secara visual, tetapi juga sarat pesan: kesiapan Polri dalam menjaga stabilitas keamanan negara tak perlu diragukan.

Atraksi anti teror yang disuguhkan oleh tim gabungan Wan Teror dan Jibom Brimob Polda Sulut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-79. Acara tersebut disaksikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, Kapolda Sulut Irjen Pol Yudhiawan Wibisono, serta jajaran Forkopimda dan tamu undangan dari berbagai elemen masyarakat.

Antusiasme hadirin tergambar jelas ketika simulasi penanganan teroris dimulai. Skenario yang ditampilkan memperlihatkan situasi penyanderaan oleh kelompok bersenjata yang kemudian berhasil dilumpuhkan melalui strategi cepat, tepat, dan terukur dari satuan elite anti teror.

Jarak antara penonton dan lokasi atraksi diatur sedemikian rupa agar tetap aman, namun cukup dekat untuk menyaksikan detail pergerakan taktis para personel. Aksi demi aksi berlangsung dramatis, dimulai dari identifikasi ancaman, pengepungan lokasi, hingga proses evakuasi sandera dan penjinakan bom. Seluruh rangkaian dilakukan dengan dukungan teknologi modern dan perlengkapan canggih yang menjadi standar operasional tim anti teror Polda Sulut.

Pertunjukan yang Mengedukasi dan Menginspirasi

Kapolda Sulut Irjen Pol Yudhiawan Wibisono menjelaskan bahwa atraksi ini bukan sekadar pertunjukan visual. Ia menekankan bahwa demonstrasi tersebut merupakan bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa Polri memiliki kapasitas penuh dalam menghadapi potensi ancaman keamanan, termasuk aksi terorisme.

“Ini bukan hanya hiburan, ini adalah gambaran nyata kesiapan kita. Masyarakat perlu tahu bahwa setiap ancaman yang mengintai akan dihadapi dengan kekuatan penuh oleh Polri, tentu dengan pendekatan yang sesuai dengan standar hukum dan HAM,” ujar Yudhiawan kepada wartawan usai upacara.

Selain memperlihatkan keandalan taktis, atraksi ini juga bertujuan membangun rasa aman dan kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian. Momentum Hari Bhayangkara dijadikan ajang untuk menunjukkan wajah Polri yang profesional, modern, dan humanis.

Gubernur Sulut Beri Apresiasi Tinggi

Gubernur Yulius Selvanus dalam sambutannya menyampaikan penghargaan tinggi kepada seluruh jajaran Polda Sulut. Ia mengakui bahwa kehadiran dan dedikasi Polri selama ini sangat berperan penting dalam menjaga kondusivitas wilayah Sulawesi Utara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

“Kita semua menyaksikan sendiri bagaimana aksi heroik yang tadi ditampilkan tidak hanya menghibur, tetapi juga membangkitkan rasa bangga sebagai warga negara. Kita punya aparat yang siap siaga, disiplin, dan memiliki integritas,” ujar Yulius dalam pidatonya.

Ia menambahkan bahwa tantangan keamanan ke depan tidak semakin ringan, terutama dengan dinamika sosial dan global yang terus berubah. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi berkomitmen untuk terus mendukung kebutuhan dan peningkatan kapasitas aparat keamanan demi menjaga stabilitas daerah.

Atraksi Anti Teror, Refleksi Tugas Berat di Lapangan

Komandan Satuan Brimob Polda Sulut, Kombes Pol Rinto Tarigan, yang mengoordinir langsung atraksi tersebut menjelaskan bahwa skenario yang ditampilkan adalah adaptasi dari berbagai kasus nyata yang pernah terjadi di Indonesia. Menurutnya, latihan rutin dan simulasi seperti ini sangat penting untuk menjaga refleks dan respons cepat di medan sesungguhnya.

“Setiap personel yang tampil hari ini sudah melalui proses seleksi ketat dan latihan intensif. Atraksi ini hanya sebagian kecil dari kemampuan yang dimiliki tim anti teror kita. Di lapangan, tantangan jauh lebih kompleks,” tutur Rinto.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan operasi anti teror tidak hanya ditentukan oleh kecepatan dan senjata, tetapi juga oleh kecerdasan intelijen, koordinasi antar unit, serta keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi.

Masyarakat Terpukau, Anak-Anak Terkesima

Tidak hanya para pejabat, masyarakat umum yang menyaksikan atraksi ini juga memberikan respons positif. Beberapa pelajar dari berbagai sekolah di Manado yang diundang secara khusus tampak antusias merekam jalannya simulasi menggunakan ponsel.

Rina, seorang guru dari SMA Negeri di Manado, mengaku kagum dengan atraksi yang baru pertama kali ia saksikan secara langsung.

“Anak-anak kami sangat bersemangat. Ini pengalaman yang tidak akan mereka lupakan. Selain menonton, mereka belajar tentang pentingnya keamanan dan tugas kepolisian secara nyata,” ungkap Rina.

Respons serupa datang dari masyarakat umum yang hadir. Mereka merasa atraksi semacam ini perlu lebih sering dilakukan untuk membangun pemahaman masyarakat tentang peran Polri dalam konteks yang lebih luas.

Sinergi Antar Satuan Kunci Penanganan Teror

Dalam atraksi ini, sinergi antara unit-unit berbeda menjadi sorotan utama. Tim Wan Teror bergerak pertama sebagai pemukul awal, dilanjutkan oleh unit Jibom yang memastikan lokasi bebas dari bahan peledak. Setelah itu, satuan pengamanan wilayah melakukan perimeter blocking untuk mencegah penyusupan, sedangkan unit medis bersiaga mengevakuasi korban dan pelaku yang berhasil dilumpuhkan.

Kombinasi peran yang terkoordinasi dengan baik mencerminkan pentingnya integrasi lintas satuan dalam operasi penanggulangan terorisme. Tak hanya aparat kepolisian, personel TNI juga disebut turut ambil bagian dalam sistem koordinasi pengamanan secara luas.

“Simulasi ini bukan hanya kerja Brimob semata, ini adalah hasil koordinasi semua unit. Dalam situasi nyata, TNI, Satpol PP, Basarnas, bahkan dinas kesehatan bisa ikut berperan,” jelas Kombes Rinto.

Dukungan Teknologi Canggih dalam Operasi Anti Teror

Peralatan yang digunakan dalam atraksi ini mencerminkan peningkatan signifikan dalam modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) Polri. Drone pengintai, kendaraan taktis lapis baja, senjata otomatis, hingga sistem komunikasi terenkripsi digunakan secara efektif selama simulasi berlangsung.

Menurut penjelasan salah satu instruktur teknis, penggunaan drone dalam atraksi bukan sekadar simbolik. Dalam operasi sebenarnya, drone menjadi alat vital untuk observasi dan penilaian awal sebelum tim menyerbu lokasi.

“Dengan drone, kita bisa tahu posisi musuh, identifikasi jalur evakuasi, dan menilai potensi risiko secara cepat. Ini mengurangi korban dan meningkatkan akurasi tindakan,” jelasnya.

Transformasi Polri Melalui Aksi Nyata

Atraksi ini menjadi gambaran kecil dari transformasi besar yang sedang berlangsung di tubuh Polri. Dari lembaga konvensional yang dulunya hanya mengandalkan kekuatan manusia, kini Polri bergerak menjadi institusi yang didorong oleh data, teknologi, dan pendekatan kolaboratif.

Kapolda Sulut menegaskan bahwa peringatan Hari Bhayangkara tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga refleksi mendalam terhadap tanggung jawab besar yang diemban aparat keamanan.

“Setiap momen seperti ini harus menjadi pengingat bagi seluruh personel bahwa tugas kita bukan hanya menegakkan hukum, tetapi menjaga harapan masyarakat akan keamanan dan ketertiban. Ini amanah yang tidak ringan,” tegas Irjen Pol Yudhiawan.

Penutup yang Mengesankan dan Penuh Harapan

Setelah atraksi anti teror selesai, seluruh peserta upacara memberikan aplaus panjang sebagai bentuk apresiasi. Para personel yang tampil, meski dilatih untuk tidak larut dalam euforia, tetap menunjukkan ekspresi bangga.

Gubernur dan Kapolda secara simbolis memberikan penghargaan kepada tim atraksi sebagai bentuk apresiasi atas profesionalisme dan dedikasi mereka. Foto bersama diambil di tengah lapangan, dengan latar belakang spanduk besar bertuliskan “Hari Bhayangkara ke-79: Polri Presisi, Menuju Indonesia Emas.”

Acara kemudian dilanjutkan dengan parade pasukan dan persembahan kesenian daerah, menambah nuansa kultural yang menghangatkan suasana.

Hari Bhayangkara ke-79 di Sulawesi Utara menjadi bukti nyata bahwa Polri bukan hanya institusi penegak hukum, tetapi juga garda depan dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah dinamika zaman. Atraksi anti teror bukan hanya menyentuh rasa, tetapi juga menggerakkan kesadaran kolektif bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *