Manado – Sudah lebih dari sepekan, masyarakat Manado mengeluhkan tingginya harga beras di pasar tradisional. Lonjakan harga ini membuat banyak warga harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Di tengah tekanan ekonomi pasca-pandemi dan naiknya biaya hidup, mahalnya harga beras menjadi pukulan baru bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Pantauan di Pasar Tradisional Pinasungkulan Karombasan Manado menunjukkan bahwa harga beras jenis Mebrano dan Superwin masih dijual jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Saat ini, harga beras Mebrano menembus Rp15.500 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp14.000. Sementara itu, beras Superwin yang semula dijual seharga Rp14.500 per kilogram kini sudah menyentuh angka Rp16.000.
Kondisi ini tentu saja memicu kekhawatiran dan kekecewaan di kalangan warga. Sebagian besar dari mereka mengeluhkan dampak langsung yang mereka rasakan di dapur masing-masing. Kenaikan ini tidak hanya memberatkan konsumen, tetapi juga menunjukkan adanya ketidakseimbangan dalam rantai distribusi pangan.

Pedagang Mengaku Kenaikan Dipicu Stok Menipis
Menurut para pedagang, kenaikan harga terjadi karena stok beras yang masuk ke pasar berkurang dalam beberapa minggu terakhir. Beras yang biasanya datang dari daerah penghasil utama seperti Bolaang Mongondow (Bolmong) dan Kotamobagu, kini jumlahnya lebih terbatas. Selain itu, pasokan dari luar provinsi seperti Poso dan Palu, Sulawesi Tengah, juga ikut berkurang.
Seorang pedagang beras di Pasar Karombasan, Sulce Giroth, menyatakan bahwa minimnya pasokan telah terjadi sejak dua minggu lalu. Ia menduga hal ini berkaitan dengan perubahan pola tanam yang terjadi di beberapa daerah sentra produksi. Sebagian petani diduga beralih menanam tanaman lain seperti nilam, yang dinilai lebih menguntungkan dari sisi harga pasar.
“Stok dari Bolmong dan luar daerah sudah berkurang. Kami dengar beberapa petani sekarang tanam nilam, bukan padi. Jadi otomatis pasokan ke Manado turun. Kami juga terpaksa jual lebih mahal karena dari gudang pun harga sudah naik,” ujar Sulce.

Permintaan Warga: Pemerintah Harus Cepat Bertindak
Kondisi ini memicu desakan dari masyarakat agar pemerintah segera turun tangan. Warga berharap ada langkah konkret untuk menstabilkan harga, baik dengan intervensi pasar melalui operasi pasar murah, distribusi cadangan beras pemerintah (CBP), maupun pengawasan terhadap jalur distribusi.
Heisye, seorang ibu rumah tangga yang ditemui saat berbelanja, mengaku sudah sangat terbebani dengan harga beras yang tinggi. Ia menyatakan bahwa belanja bulanan untuk kebutuhan pokok kini harus dipangkas karena sebagian besar dana habis untuk membeli beras.
“Biasanya saya beli 10 kilogram beras untuk satu minggu, sekarang cuma bisa beli 5 kilogram karena harganya naik terus. Pemerintah tolong dong, jangan diam saja,” ungkap Heisye.
Antony, seorang pekerja lepas, juga menyampaikan kekhawatirannya. Ia merasa tidak punya banyak pilihan karena beras adalah kebutuhan utama. Meski penghasilannya tidak tetap, ia tetap harus membeli beras karena tidak ada alternatif makanan pokok lain.
“Saya mau tidak mau tetap beli, karena anak-anak di rumah butuh makan. Tapi kalau begini terus, kami bisa kelaparan. Pemerintah harus cepat atur pasokan supaya harga turun lagi,” katanya.

Harga Naik, Omzet Pedagang Masih Stabil
Meskipun harga melonjak, para pedagang mengaku omzet penjualan mereka masih stabil. Menurut mereka, warga tetap membeli beras meskipun dalam jumlah lebih sedikit dari biasanya. Hal ini menunjukkan bahwa beras memang merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda, tidak peduli seberapa tinggi harganya.
“Memang jumlah kilogram yang dibeli warga berkurang, tapi tetap ada yang beli setiap hari. Jadi omzet tidak terlalu jatuh. Tapi kami juga tidak enak, karena banyak yang marah-marah ke kami, padahal kami cuma jual sesuai harga yang kami beli dari gudang,” kata Sulce.
Namun begitu, ada kekhawatiran di kalangan pedagang bahwa jika kondisi ini berlarut-larut, daya beli masyarakat bisa anjlok, dan itu akan berdampak langsung pada keberlangsungan usaha mereka. Beberapa pedagang bahkan mulai mempertimbangkan untuk mengurangi stok yang mereka ambil dari distributor untuk menghindari kerugian.

Beras Lokal dan Luar Daerah Terkendala Pasokan
Mayoritas beras yang dijual di Pasar Pinasungkulan berasal dari daerah-daerah seperti Bolmong, Kotamobagu, Poso, dan Palu. Namun beberapa pekan terakhir, distribusi dari daerah-daerah tersebut mengalami gangguan. Diduga ada masalah dalam pengangkutan serta cuaca ekstrem yang memengaruhi produksi dan distribusi.
Ketua Asosiasi Pedagang Pangan Tradisional Manado, Fredy Kalengkongan, menyebutkan bahwa pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang. Ia mendorong pemerintah agar mempercepat distribusi cadangan beras pemerintah serta memperkuat jaringan logistik dari daerah sentra produksi.
“Kami sudah sampaikan ke dinas terkait bahwa ini harus segera ditangani. Kalau tidak, harga bisa naik lagi minggu depan. Kami minta Bulog segera gelar operasi pasar di titik-titik rawan seperti Karombasan dan Paal Dua,” jelas Fredy.

Bulog Sulut: Siap Salurkan Beras Operasi Pasar
Pihak Bulog Sulawesi Utara menyatakan kesiapannya untuk menyalurkan beras dalam rangka operasi pasar jika diminta oleh pemerintah daerah. Kepala Bulog Sulut, Rudy Mandolang, mengatakan bahwa stok cadangan beras pemerintah masih mencukupi dan siap digelontorkan ke pasar jika ada permintaan resmi dari pemerintah daerah atau dinas terkait.
“Kami masih punya stok cukup. Tapi prosedurnya kami tunggu permintaan resmi dari pemerintah daerah atau permintaan dari Kementerian Perdagangan untuk intervensi pasar. Jika itu keluar, kami langsung bergerak,” ujar Rudy.
Bulog juga akan bekerja sama dengan para pedagang lokal untuk menyalurkan beras dengan harga di bawah HET. Menurut Rudy, tujuan utama operasi pasar adalah menekan harga di tingkat konsumen tanpa merugikan pedagang.

Dampak Sosial: Dapur Masyarakat Mulai Tertekan
Tidak hanya menimbulkan keresahan, tingginya harga beras juga mulai berdampak pada kondisi konsumsi rumah tangga. Banyak keluarga yang mengurangi frekuensi makan nasi atau mencampur nasi dengan bahan pangan lain seperti singkong, ubi, atau jagung. Beberapa warga bahkan mengaku mulai mengandalkan makanan instan karena lebih murah.
Di beberapa wilayah padat penduduk seperti Tuminting, Karame, dan Tikala, sejumlah warga mulai berbagi informasi mengenai titik-titik penjual beras murah atau stok lama yang belum mengikuti harga baru. Media sosial lokal pun ramai dengan diskusi soal harga beras, bahkan ada yang mengunggah bukti struk pembelian sebagai bentuk protes.
Seorang aktivis perempuan dari komunitas Gerakan Ibu-Ibu Manado (GIM), Venny Lantang, menyebutkan bahwa tingginya harga beras bisa berdampak serius terhadap gizi anak-anak jika terus dibiarkan.
“Kalau ibu-ibu mulai kurangi porsi makan anak-anak karena beras mahal, ini bisa berdampak pada tumbuh kembang. Ini bukan cuma masalah ekonomi, tapi juga krisis gizi. Pemerintah harus segera ambil langkah sebelum ini jadi bencana sosial,” tegas Venny.

Pemerintah Kota Manado: Akan Segera Koordinasi
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Manado, Denny Runtuwene, menjelaskan bahwa pihaknya sudah menerima laporan dari masyarakat terkait lonjakan harga beras. Ia menyatakan bahwa langkah cepat sedang disiapkan melalui koordinasi dengan Bulog, dinas pertanian, dan distributor beras.
“Kami akan rapat koordinasi minggu ini. Fokus kami adalah menstabilkan pasokan dulu. Kalau distribusi lancar, harga akan ikut normal. Kami juga akan mendorong segera dilakukannya operasi pasar di beberapa titik strategis,” kata Denny.
Selain itu, pemerintah kota juga tengah mendata jalur distribusi dan gudang penyangga beras untuk memastikan tidak terjadi penimbunan yang memperparah kondisi pasar.

Butuh Aksi Nyata, Bukan Sekadar Janji
Tingginya harga beras di Manado tidak bisa dianggap sebagai isu musiman semata. Di tengah tekanan ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat, lonjakan harga bahan pokok seperti ini bisa menjadi pemicu ketegangan sosial. Pemerintah dituntut hadir, bukan hanya dalam bentuk wacana atau janji, tetapi melalui langkah-langkah konkret dan terukur.
Distribusi beras harus dipastikan lancar. Petani perlu didorong untuk tetap menanam padi dengan insentif yang memadai. Pengawasan terhadap distribusi dan gudang penyimpanan juga harus diperketat agar tidak terjadi penimbunan atau permainan harga. Operasi pasar dan subsidi harga bisa menjadi langkah jangka pendek, tapi solusi jangka panjang adalah memperkuat ketahanan pangan daerah.
Masyarakat Manado menunggu tindakan, bukan sekadar wacana. Jika tidak segera ditangani, krisis harga beras ini bisa menjadi simbol kegagalan sistem distribusi pangan yang seharusnya menjamin kebutuhan pokok rakyat tetap terjangkau.