MINAHASA UTARA – Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Stenly Humena di Kabupaten Minahasa Utara. Stenly, pria asal Sulawesi Utara yang selama ini bekerja sebagai pendulang emas di Papua, dikabarkan menjadi salah satu korban tewas dalam insiden kekerasan yang diduga dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.

Keluarga dan kerabat almarhum berharap agar jenazah Stenly Humena dapat segera dipulangkan ke kampung halaman untuk dimakamkan secara layak.

Keluarga Terima Kabar Duka

Informasi duka ini pertama kali diterima keluarga pada Selasa, 8 April 2025. Kabar tersebut datang dari sejumlah rekan Stenly yang menginformasikan bahwa ia tewas dalam serangan brutal oleh KKB. Berdasarkan informasi awal, Stenly ditemukan dalam kondisi mengenaskan dengan sejumlah luka akibat kekerasan berat.

“Kami sangat berharap jenazah adik kami bisa dipulangkan ke sini. Kami ingin memakamkannya di kampung halaman, di tanah kelahiran,” ujar Sherly Humena, kakak kandung korban, dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di rumah duka, Minggu (13/4/2025).

Sejak kabar tersebut diterima, keluarga terus berupaya menghubungi berbagai pihak di Papua untuk mendapatkan informasi yang lebih pasti. Upaya itu akhirnya membuahkan hasil ketika pada Jumat, 11 April 2025, seorang perwakilan kepolisian di Papua menghubungi keluarga dan meminta data identitas korban.

Selain data pribadi, pihak kepolisian juga meminta salah satu saudara kandung korban yang berada di Papua untuk melakukan tes pencocokan DNA guna memastikan identitas jenazah yang ditemukan. Hingga Minggu siang, pihak keluarga masih menunggu hasil resmi dari tes DNA tersebut.

Namun berdasarkan sejumlah bukti seperti ciri-ciri fisik, pakaian, dan foto-foto yang dikirim dari lokasi kejadian, pihak keluarga meyakini bahwa Stenly merupakan salah satu dari 11 korban tewas dalam serangan oleh KKB tersebut.

Rumah Duka Telah Disiapkan

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa rumah kediaman keluarga Stenly di Minahasa Utara telah ditata sebagai rumah duka. Pihak gereja setempat juga telah menggelar pelayanan kebaktian penghiburan sejak Sabtu malam. Sejumlah kerabat dan tetangga mulai berdatangan untuk memberikan dukungan dan doa bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Kami hanya ingin almarhum bisa kembali ke rumah. Kami sedang siapkan semua untuk pemakaman kalau memang nanti jenazah bisa dipulangkan,” kata Marlyn Diansapar, salah satu perwakilan keluarga.

Sosok Stenly: Pendulang Emas yang Ulet

Menurut penuturan keluarga, Stenly Humena telah lama merantau ke Papua dan bekerja sebagai pendulang emas di kawasan pedalaman Yahukimo. Ia dikenal sebagai sosok yang rajin, pendiam, dan tak pernah mengeluh soal kerasnya kehidupan di tambang-tambang emas tradisional.

Stenly terakhir kali pulang ke Minahasa Utara pada Oktober 2024, saat menghadiri perayaan keluarga. Ia kembali ke Papua pada Februari 2025 untuk melanjutkan pekerjaannya di lokasi pendulangan emas.

“Dia memang jarang pulang, tapi selalu bilang kalau semua baik-baik saja di sana,” kenang Sherly dengan suara bergetar.

Tragedi Kemanusiaan di Yahukimo

Insiden kekerasan yang terjadi di Yahukimo menambah panjang daftar kekerasan bersenjata yang melibatkan KKB di wilayah Papua. Hingga kini, aparat keamanan masih melakukan penyelidikan serta upaya penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan.

Polisi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil tes DNA korban yang diduga Stenly Humena, namun penyelidikan masih terus berlangsung. Pemerintah setempat dan aparat keamanan di Papua juga tengah mengupayakan proses pemulangan jenazah para korban ke daerah asal masing-masing, termasuk ke Sulawesi Utara.

Keluarga besar Stenly kini hanya bisa berharap dan berdoa agar proses identifikasi dan pemulangan jenazah bisa segera selesai, sehingga mereka dapat memberikan penghormatan terakhir bagi putra mereka yang menjadi korban dalam konflik yang belum kunjung reda itu.

“Kami tahu situasi di sana sulit. Tapi kami mohon, tolong bantu kami agar Stenly bisa kembali,” tutup Sherly, yang kini menjadi tumpuan semangat keluarga di tengah masa berkabung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *